Paris Marabahaya : Berpisah


dimana harus ku letakkan kekhawatiranku
kemana aku harus mengalihkan pandanganku
ketika kau tak lagi mampu memenuhi ruang kosong dan jeda dalam kepalaku

-----------------------------------------


"Ayo kamu harus banyak baca lagi, aku nggak mau kamu jadi pikun, umur segini udah banyak lupa, baca filsafat lebih banyak, kamu suka bacaan filsafat kan? Ini ada, nnngggg.... jin, ngggg... paul... sate?? Apa sih ini bacanya!?" tanyanya dengan cara yang menjengkelkan.
"Sartre!" ucapku gemas sembari membayangkan filsuf sekelas Sartre menjadi sosok mahkluk ghaib yang keliling komplek berjualan sate. "Lagian kamu nggak suka ke toko buku ngapain ngajak-ngajak aku ke sini?"
"En soi,  pour soi, soi dari bahasa Inggris soil kan? Tanah kan maksudnya? Manusia pasti akan kembali ke tanah!  Aku ngerti kok!" dia terus meracau tidak menanggapi ucapanku sebelumnya.
"Bukan... udah deh kamu nggak pernah baca begituan ngapain nyuruh aku buat baca? Aku juga udah pernah baca kok itu, eksistensialisme, lagian itu bahasa Perancis kamu habis ini mau ke Paris dan kamu nggak ngerti bahasa Perancis sama sekali.." ujarku heran.
"Aku pake bahasa Inggris disana.."
"Siap-siap ditoyor kepalamu kalau pake bahasa Inggris di Perancis.."
"Toyor balik!" ucapnya tidak terima. Oke, dibalik tubuh kurusnya aku memang tidak memahami potensi mematikan dalam dirinya.

Entah kenapa hari itu dia sangat bersemangat mengajakku ke toko buku. Satu-satunya toko yang tidak akan pernah ingin dia kunjungi. Berpindah dari satu rak buku ke rak buku yang lain 

"ini bagus coba baca deh, itu bagus kayanya coba kamu baca, liat ini deh

dia memilih buku seperti memilih baju yang sedang diskon 70% seperti ibu-ibu yang ingin membelikan baju anaknya "nak celana ini cocok buat kamu nanti kalau kekecilan bisa untuk adikmu dan baju itu apakah kamu melihatnya walaupun warnanya norak tapi sedang diskon! mama belikan dan harus dipakai ya!" dan aku tahu betul dia tidak pernah pergi berbelanja baju seumur hidupnya apalagi tertarik membaca buku. Bagaimana bisa dia memberi rekomendasi buku yang bagus kalau dia sendiri tidak pernah membacanya.

"Ehhh, ya ampuuun ini bukunya cute banget warnanya ungu, bagus deh coba kamu baca!"

Aku baca judul buku tersebut "Pilates for Hernia and Diastase Rectus Abdominal" aku baca judul bagian rak tempat dimana buku tersebut berada "Medical" dan aku sadar menyarankan seseorang seperti dia untuk memilihkan kita buku adalah keputusan yang buruk. Melengos aku ambil buku tersebut dari tangannya dan mengembalikan ke tempat buku tersebut berasal. 
"Perut dan ususku baik-baik aja kok, ayo makan, aku mulai lapar"
"Loh, tapi aku belum dapat buku yang mau aku baca"
"Udah, buku dirumahmu juga pasti berujung jadi ganjel monitor komputermu" aku menariknya menuju arah kasir. 

Pusat perbelanjaan saat itu sangat lengang dan kosong. Maklum kami berada disana ketika hari dan jam kerja dan kami juga sedang libur selepas Ujian Nasional dan Ujian Praktek. Beberapa hari lagi sekolah kami akan mengadakan perpisahan di Bali. Kami menuju ke sebuah kafe yang khusus menyediakan hidangan kopi dan teh.

"Aku jengkel" ucapnya sembari melipatkan tangan dan membuang pandangan ke arah jendela. Secangkir green tea panas dengan uapnya mengepul dihadapannya. Memberi kesan anggun pada wajahnya yang tengah sendu tepat berada dalam pandanganku. Secangkir kopi hitam juga masih mengepul di cangkir ku. Sejenak kusingkirkan kopiku. Meletakkan tanganku diatas meja dan bersiap mendengarkan omelannya mengenai keberangkatanku ke Amerika beberapa hari lagi.
"Kamu kan tau kita akan ada perpisahan SMA di Bali, sekali seumur hidup bisa-bisanya kamu salah tanggal beli tiket! Heran.." sesuai dugaanku dia mulai mengomel.

"Ya walaupun salah tanggal tapi kan ada untungnya juga, aku lebih punya banyak persiapan untuk belajar dan cari informasi mengenai kampus yang mau aku tempati nanti, sekalian cari asrama" ucapku membela diri.
"Tapi kan kamu jadi nggak ikut perpisahan, padahal kamu juga ngerti setelah dari Bali aku langsung berangkat ke Paris, harusnya kita masih bisa bertemu di perpisahan itu"
"Iyaa maaf, ya aku juga bisa apa, semua sudah siap, visa dan paspor sudah ditangan, tiket juga sudah siap, sialnya aku memang lupa, mau bagaimana lagi? Toh kalau begini aku juga beruntung seperti yang aku bilang tadi waktu persiapanku disana lebih banyak.."
"Kamu memang selalu egois, selalu semua tentang kamu, selalu kamu yang merasa diuntungkan" ucapnya agak sedikit tersendat. Sebutir air mata mengalir dari sudut matanya. "Aku nggak mau ya anter kamu ke bandara, berangkat sendiri aja kesana!"
"Aku dianter saudara kok tenang aja nggak usah khawatir gitu, lagian waktu aku berangkat kamu kan udah di Bali.."
"Hhhh... susah ya ngomong dengan kamu nggak ada peka-pekanya, udah ayo pulang aku mau siap-siap buat PERPISAHAN KE BALI!" ucapnya meledek tapi sembari menghapus air matanya.

-----------------------------------------

Aku telah berada dalam lorong yang akan membawaku menuju boarding. Aku tarik koperku dengan lemah tak bertenaga. Sesekali aku menoleh kebelakang masih terlihat saudara dan ibuku melambaikan tangan. Aku masih mencari wajah yang kuharapkan, yang kutahu tidak akan pernah datang.

Membiru indraku
Susah payahku melepasmu
Terlihat ku palsu
Tanpa rasamu menjamahku
Tanpa ragamu disampingku

Kusut - Fourtwnty

Comments

Popular Posts