Paris Marabahaya : Masygul


"Dasar bodoh! culun bodoh!" pekikku dalam hati mengumpat laki-laki berkacamata yang sosoknya masih terus membayangi ingatanku. Entah apalagi bila bodoh bukan kata yang tepat!? Di hari perpisahan sekolah kami dengan cerobohnya dia lupa dan malah membeli tiket pesawat ke Amerika, di tanggal yang sama. Dengan santainya dia berkata berarti dia beruntung bisa memiliki waktu persiapan yang banyak disana seolah-olah dua minggu persiapan bukanlah waktu yang cukup baginya. Rencananya sih dia memang ingin melanjutkan kuliah disana dan belakangan aku tahu dia sedang sibuk berkeliling Amerika. Katanya sih menuju Colorado tapi melihat foto-fotonya dia malah sedang berada di Las Vegas, Wyoming, Tahoe Lake dan entah mana lagi hanya dia dan Tuhan yang tahu. Malahan dia sempat mengupload fotonya sedang berada di sebuah pantai di California dengan caption "a cold beach" entah apa maksudnya. Aku merasa dibohongi!

Oh ya, hai, aku lupa memperkenalkan diriku. Maaf, aku tiba-tiba muncul dengan seluruh kejengkelanku karena kecerobohan seorang laki-laki culun. Aku Saras, gadis yang sering diceritakan oleh pemilik cerita-cerita disini, ya, si culun itu. Sepertinya dia tidak pernah mendeskripsikan diriku di cerita-cerita sebelumnya. Payah memang si culun. Aku seorang gadis yang manis, aku juga berkacamata, walau aku kurus tapi aku tahu wajahku sangat menarik dan tidak membosankan. Terbukti si culun hampir tidak pernah mengedipkan matanya ketika memandangku. Ah ya, pandangan mata itu. Seperti pandangan orang yang mengantuk dan tidak memiliki antusias terhadap apapun. Aku hampir tidak pernah melihat semangat dalam dirinya. Selalu pesimis dan dipenuhi perasaan ragu dan curiga. Tapi aku melihat binar sinar matanya ketika dia memandangku. Dan aku, jatuh dalam pandangan matanya yang sayu namun berbinar itu.

Ah, tapi aku malas membahas si culun. Aku jadi teringat lagi atas perilaku cerobohnya. Harusnya saat ini kami berdua berada di pantai ini. Berjalan diatas pasir yang panas ini. Ditemani ombak yang bergulung-gulung dan aku harap ombak itu menggulung si culun dan membawanya ke benua Australia. Maaf, aku tidak bisa menggunakan bahasa mesra dan puitis karena aku terlanjur kecewa olehnya. Pertemuan-pertemuan kami yang entah kenapa walau cukup sering tapi juga berlalu sangat cepat. Hal yang sering ia lakukan ketika denganku adalah selalu tenggelam dalam buku-bukunya yang bahkan untuk membaca nama pengarangnya pun kita harus membuka kamus bahasa asing. Rasanya tidak ada yang bisa menggeser buku-buku itu dari perhatiannya. Aku selalu bersyukur ketika denganku terkadang dia masih mau meletakkan bukunya, pertanda dia masih peduli denganku sebagai lawan bicaranya. Jika kalian berbicara dengannya dan dia tidak mau menaruh bukunya itu tanda dia tidak ingin berbicara denganmu dan tidak ingin diganggu oleh kehadiranmu. Di saat remaja seusianya sibuk bermain bola basket dia malah menghabiskan waktunya di dalam perpustakaan. Entah sudah berapa buku habis dipinjamnya dan dibawanya pulang. Mungkin dia juga punya perpustakaannya sendiri.

Terbesit seberkas rasa penyesalan dalam diriku. Karena aku tidak mampu mengatakan yang tengah aku rasa saat bersamanya. Karena aku perempuan! Kalian setuju kan kalau yang memulai selalu harus dari pihak laki-laki? Setuju kan?! Tapi ini tidak berlaku baginya. Menurutnya percuma Kartini memperjuangkan hak dan derajat wanita kalau ujung-ujungnya wanita selalu menunggu pria bergerak dulu. Rasanya emansipasi wanita menjadi tidak ada maknanya bila kita kaum perempuan tidak mau memulai menyatakan perasaan. Blablabla, sungguh aku tidak paham cara berpikirnya. Tapi kenapa rasanya aku ingin sekali menyelami pemikirannya yang mungkin terlalu dalam dan tak berdasar itu, meski aku menjadi gila dan tersesat dalam pikirannya sekalipun. Aku ingin menemui keindahan didalamnya. Yaa ampuun! Kenapa aku masih membahasnya sih?!

Mungkin aku harus segera beranjak. Aku tidak akan berjumpa dengannya lagi setelah ini. Sepulang dari sini aku harus segera berangkat menuju Paris. Pantai ini menjadi saksi bisuku. Pantai ini menyaksikan kegundahanku dan kemasygulanku. Ketika pasir yang kuinjak beranjak pergi menjauhi bibir pantai, ketika itu pula aku membiarkannya terlepas dari pelukanku. Aku merindukannya namun aku tidak pernah mampu menembus batas bias hubungan kami.

Bila kalian bertemu dengannya aku titipkan salamku untuknya.

melukiskanmu saat senja
memanggil namamu ke ujung dunia
tiada yang lebih pilu
tiada yang menjawabku selain hatiku
dan ombak berderu

Aku Ada - Dewi Lestari

Comments

Popular Posts