Kematian Tuhan




Gott ist tot! 
Gott bleibe tot! 
Und wir haben ihn getötet!

Nietzsche - Thus Spoke Zarathustra

--

Nietzsche dan pemikirannya masih menjadi misteri besar namun misteri tersebut membawa Nieztsche menjadi pemikir paling progresif dan paling berpengaruh dari abad 19. Kajiannya masih selalu dibahas dan masih selalu dikaji ulang bahkan tidak pernah terasa usang di abad 21 ini. Banyak karyanya seperti "Thus Spoke Zarathustra" sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan menjadi karya sastra-filsafat yang populer hingga saat ini.

Memahami pemikiran Nietzsche yang seperti terserak dan terpecah-pecah (walau nyatanya tidak seperti itu, tulisan Nietzsche justru sangat sistematis dan terangkum dengan sangat padat) tentu akan menyita banyak waktu dan perhatian bagi mereka yang ingin mendalami pemikiran khas Nietzsche. Untuk memahami Nietzsche kita tidak bisa hanya memahami secara literal kata per kata. Bahwa kedalaman berpikir Nietzsche merangkai kata dan menyelebunginya dengan tirai aforism yang menjadi andalan gaya penulisannya tidak bisa sekadar dimaknai kata per kata karena akan menghilangkan makna utuh yang dimaksud oleh Nietszche.

Seperti "Gott ist tot!" yang menjadi fenomenal karena bila diartikan secara gamblang memang berarti "Tuhan telah mati!" dan dari satu kalimat yang diperkosa habis-habisan tersebut tanpa berusaha ingin mengerti latar belakang Nietzsche kenapa ia melontarkan pernyataan tersebut yang dengan tegas dan diikuti dengan pernyataan "Gott bleibe tot!" juga menyiratkan ketegasan dan keseriusan akan kematian Tuhan, bahwa Tuhan telah mati, ya, kita yang telah membunuhnya dan itu tidak dapat diganggu gugat lagi. Posisi ini malah menyudutkan posisi Nietzsche dimata kaum awam yang kental dengan religiositasnya dan dengan mudah memberi cap ateis praktis pada Nietzsche. Ya, Nietzsche memang seorang ateis, tapi perlu kita pahami lagi dasar pemikiran ateis Nietzsche. Bahwa sikap atheism-nya tidak hanya sekadar sikap penolakan Tuhan namun penolakan terhadap institusi yang mengatasnamakan Tuhan. Ateis-praktis adalah sebuah penilaian yang terburu-buru untuk memahami Nietzsche dan dunia berpikirnya. Nietzsche tidak ingin kita pahami dengan cepat dan terburu-buru. Ibarat pencernaan, Nietzsche ingin kita terus mencerna perkataannya, bahkan kalau perlu harus kita muntahkan lagi dan kita kunyah lagi. Karena sikap afirmatif bukan sikap akhir yang ingin dicapai dalam memahami Nietzsche.

Lalu, apa yang dimaksud Tuhan telah mati? Tuhan yang mana yang telah mati? Bagaimana kita membunuhnya? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini akan muncul dikepala kita sesaat setelah membaca pernyataan "Tuhan telah mati" milik Nietzsche. Wajar, mengingat definisi mati secara umum adalah akhir dari kehidupan dan hilangnya senyawa dalam organisme biologis. Dalam tahap ini kita memahami kematian dalam bentuk fisik dan biologis. Bagaimana mungkin Tuhan yang tidak memiliki jasmani tidak berfisik bisa menjadi mati? Kita telah melepas batasan jasmani dalam memahami keberadaan Tuhan maka apa susahnya kita memahami kematian Tuhan tidak dalam batasan jasmani namun definisi rohani dalam diri kita.

Tuhan mati dalam diri kita ketika kita telah mengkotakkan Tuhan dan menentukan dimana Dia seharusnya berada.
Tuhan mati dalam diri kita ketika kita merasa telah melakukan kebenaran atas namaNya.
Tuhan mati dalam diri kita ketika kita menenggelamkan diri dalam ritual ibadah yang hanya mengutamakan kulit luar.
Tuhan mati dalam keegoisan kita ketika kita mengkotakkan-kotakkan sesama kita.
Tuhan mati dalam kepentingan kita yang mengatasnamakan diriNya.
Tuhan mati ketika kita telah melabeli kebenaran bukan pada Tuhan itu sendiri namun material dalam memahami Tuhan.

Nietzsche sangat mengkritik keras dasar-dasar pemikiran moralitas kekristenan bukan karena dia seorang anti-kristus namun karena ini adalah bentuk konsekuensi logis terhadap sikap atheism-nya dan sikap ini dia pertentangkan pada seluruh sistem kepercayaan atau isme-isme yang sering dia masukan dalam kategori idee-fixe bahwa manusia akan selalu butuh pegangan dan kepercayaan.  Manusia memiliki kebutuhan untuk rasa percaya. Bahwa percaya untuk tidak percaya adalah sebuah jenis "isme" baru yang dipegang erat oleh mereka yang meyakininya dan mempercayainya.

Kekristenan akan sering banyak disentil oleh Nietzsche karena memang kekristenan sangat lekat dan erat dalam kehidupan awal Nietzsche. Bahkan Nietzsche besar dalam keluarga kristen yang taat dan ayahnya adalah seorang pendeta sehingga profesi pendeta sempat menjadi proyeksi hidupnya. Menurutnya kekristenan menjadi belenggu dan penurunan kualitas moral masyarakat Eropa yang membawa Eropa masuk dalam era nihilisme. Dunia terpecah menjadi benar dan tidak benar. Bahwa kebenaran tidak bisa selalu absolut. Apakah yang disebut kebenaran absolut? Yakni kebenaran adalah apa adanya kebenaran itu sendiri. Suasana chaos sekalipun adalah kebenaran karena memang itu yang sedang terjadi. Kebenaran adalah diterima apa adanya. Kebenaran adalah kemampuan untuk menerima apa adanya realitas.

Namun bukan berarti Nietzsche harus dikerdilkan dari dan dalam pemikiran teologi serta paham moralitas gereja. Justru seharusnya landasan pemikiran Nietzsche juga bisa menjadi landasan dalam pengadaan moralitas gereja. Dimana gereja tidak melulu harus mengemukakan ritual, membicarakan perbedaan dan perpecahan dalam tubuh gereja, atau hal-hal yang tidak esensi dan hanya bersifat topeng belenggu.

Kita harus kembali pada Gnothi Seauton, sebuah usaha untuk mengenali diri sendiri. Bahwa siapa kita hingga mampu menentukan batas keberadaan Tuhan? Bahwa siapa kita hingga merasa berhak menggunakan nama Tuhan untuk ambisi pribadi? Ini adalah sebuah pemikiran yang mungkin tidak bisa untuk tidak kita renungkan kembali. Gnothi Seauton, kenali diri kita sendiri bahwa kita hanya sebutir debu di alas kakiNya.

Bagaimana kita membunuh Tuhan? Dengan menolak realitas sejatinya kita telah membunuh Tuhan.

Comments

Popular Posts