Paris Mara Bahaya : Prolog


PROLOG

Rabu, 1 bulan lalu

(sepertinya aku akan menemui seseorang yang telah lama hilang dari peredaran duniaku)



"hei pria culun dengan kacamata.. masih berkacamata kah? :)"

Sebuah pesan liar tidak bernama dan bahkan nomornya tidak aku kenali, tiba-tiba masuk dalam telepon selulerku malam itu. Pria culun dengan kacamata, satu-satunya yang sering memanggilku dengan sebutan itu adalah... dia. Menjengkelkan. Dia yang setelah perpisahan kami menghilang entah kemana dan menguap bersama waktu yang berjalan lambat bagiku. Setelah delapan tahun akhirnya dia muncul kembali. Dan yang dia ingat selalu kata "culun".

"aku sekarang di Surabaya, would you mind to have some coffee with me? masih suka kopi kan?" 
"memang selama ini kamu dimana? never heard about you since eight years ago..." balasku
"let's have a cup of coffee and i will talk, i know you still love coffee ;)" 
"hmm... okay.."
"ada kafe yang mau aku kunjungi di daerah surabaya timur, *censored* kamu tau?"
"pernah dengar sih, but i never go there before..."
"okay, sabtu ya?! selepas maghrib aja, it would be your first time to go there!"
"hei.. aku bahkan belum bilang iya.." 
"see you there! :)"
"kamu masih selalu menjengkelkan..." 
"hehe.. dan aku harap kamu masih selalu menggemaskan" balasnya menutup percakapan malam itu. 

**********

Kubantingkan tubuhku keatas kasur. Mataku menerawang langit-langit kamar. Memoriku terhempas menuju 10 tahun lalu.

Kantin sekolah selalu penuh saat istirahat kedua. Dan seperti biasa aku selalu menuju ke kantin hanya untuk membeli minum karena aku selalu membawa bekal dari rumah, sebuah kebiasaan yang selalu aku lakukan bahkan hingga saat ini. Aku selalu merasa tidak cocok dengan masakan yang tidak berasal dari rumah.

Dan seperti remaja laki-laki usia sekolah pada umumnya aku juga memiliki segerombolan teman laki-laki yang sering ikut makan bersamaku walau awalnya mereka merasa agak aneh karena aku membawa bekal sendiri. Hal yang tidak lazim mereka lihat didalam sekolah elite ini. Aku selalu geli kalau mengingat ekspresi mereka pertama kali melihatku membawa bekal.

Tapi pada hari itu aku menyantap bekalku sendiri. Semua teman-temanku yang rutin makan bersamaku sedang sibuk mengejar tugas yang belum mereka selesaikan. Berhubung pelajaran itu adalah pelajaran yang aku suka maka aku telah menyelesaikannya beberapa hari yang lalu. Sebuah kebanggaan tersendiri.

"Hai.. boleh duduk disini?" tiba-tiba dia muncul dihadapanku bertanya kepadaku yang seorang diri dengan ayam goreng ditangan kanan dan garpu ditangan kiri.

Aku melihat sekeliling dan melihat masih banyak kursi dan meja kosong. Dari sekian banyak tempat kosong dia memilih untuk duduk tepat didepanku.

"Boleh nggak?" aku lupa kalau dia masih berdiri dan menunggu jawabanku.
"Iya boleh.." jawabku dengan sedikit bingung.
"Kok sendiri? Biasanya sama geng mu." tanyanya sembari membantingkan tubuh kurusnya diatas kursi kayu. Aku harap kursi itu tidak mematahkan tulang-tulangnya.
"Geng?" sebuah istilah yang aneh. Terdengar seperti seolah-olah kami kelompok kriminal yang suka membegal orang lewat dengan belanjaannya.
"Bukan geng, cuma beberapa teman kelas yang kebetulan suka makan bersama, sayangnya hari ini mereka sedang mengejar tugas dari Pak Heri, tau sendiri kan Pak Heri kalau masalah tugas terlambat gimana."
Dia hanya tersenyum.

"Kamu juga tumben di kantin ini? Aku nggak pernah lihat kamu di kantin ini"
"Aku biasa ke kantin dekat perpustakaan, cuma hari ini aku ada kelas olahraga jadi aku lebih memilih kantin dekat lapangan supaya nanti nggak  terlalu jauh ke ruang ganti."
"Oooohh... I see"
"Aku selalu merhatiin  kamu"
Sedikit terkejut dengan ucapannya. Apa maksudnya? Tangan kiriku menggenggam keras garpu yang sedari tadi kupegang, kalau sesuatu yang aneh mulai terjadi aku berencana menikamnya dan melarikan diri sambil berteriak.
"Hahaha.. Bukan merhatiin yang seperti itu" sahutnya ketika melihat aku mungkin seperti bergidik ngeri sesaat setelah mendengar perkataannya.
"Cukup unik di sebuah sekolah swasta ada satu orang cowok yang bawa bekal sendiri dari rumah ketika yang lain antri untuk beli makanan"
"Apa anehnya? Ada beberapa juga aku lihat bawa bekal sendiri"
"Anehnya? Ya karena kamu cowok! Hahahahaha" ujarnya sembari tertawa panjang.
"Kalau kamu cuma mau duduk didepanku dan mengejekku lebih baik kamu pindah, masih ada banyak tempat kosong" ucapku agak kesal.
"Waah, kamu serius dan sensitif sekali orangnya ya, baiklah aku juga akan serius" ucapnya sambil menegakkan duduknya dan melipat tangannya diatas meja. Entah kenapa menjengkelkan sekali melihat perempuan ini. Tiba-tiba datang dan kemudian menertawakan kebiasaanku membawa bekal dari rumah.
"Aku tidak terlalu bisa makan masakan yang tidak dari rumah" dan entah kenapa aku berusaha menjelaskan kepadanya.
"Mamaku juga selalu menawarkan aku untuk bawa bekal tapi aku selalu menolak, udah SMA, agak malu juga kalau bawa kotak bekal"
"Iyakan saja, hanya untuk menghargai usaha mamamu, masalah kamu makan atau tidak itu nanti toh kamu bisa berbagi sama temanmu"
"Nanti deh aku pertimbangkan" ucapnya sambil menyendokkan sesuap nasi terakhir  kedalam mulutnya.

Bel panjang berbunyi tanda istirahat kedua sudah berakhir. Aku membereskan bekalku dan segera kembali ke kelas.

"Eh, udah gitu aja?? Kamu sedari tadi ngobrol sama orang lho, masa langsung pergi gitu aja? Aku bahkan belum tau namamu.."
"Hah? Oh ya, aku balik kelas dulu makasih udah nemenin, Reza" ucapku sembari menjulurkan tangan.
"Nah gitu lebih baik kan, Saras, saranku perbanyak senyum, aku jarang melihat senyum di mulutmu" dia menyambut tanganku dan kami bersalaman.
"Iya, ya udah aku balik dulu"
"Besok mungkin aku akan bawa bekal, kalau kamu mau kita bisa makan bareng lagi"
"Lihat besok ya"
Dia hanya tersenyum dan melambaikan tangannya dan berlalu.

Aku kembali menuju kelasku. Seuntai senyum tersimpul di sudut kering bibirku.



kau bawa sesuatu yang tak biasa
memacu jantungku
menggoyahkan perisai hati
menghasut gelombang cinta

Segara - Menyambut Fajar


Comments

Popular Posts