VCA Part. 3

"jalanku mulai berkabut
tetapi masihkah kau dengar lirih namamu tetap kusebut?
dalam doa aku membawa namamu
berharap dapat menyembuhkan lukamu"


Aku mengendarai mobil rental ku bersiap berangkat menjemput Vira. Suara MP3 dalam mobil lirih memutar sebuah tembang dari Novo Amor yang berjudul Cold.

Heal your frays, just to know you'll wear them thin again. Peel off the name, that i gave and I knew you wore within. Forget our nave, the summer spent within.

Tepat pukul 9 pagi aku sudah sampai didepan homestay tempat dimana Vira menetap selama berlibur di Lombok. Hanya berjarak sekitar 15 menit dari motel tempatku menginap. Bersama mobil rental yang terlampau kecil untuk ukuran badanku aku menunggunya didepan gerbang. Aku segera mengirim pesan padanya.

"hei aku udah dibawah, Kuta Garden kan?"
"iya bener, aku bisa liat kmu kok dari atas, bentar aku hbis gni turun, ayahku juga ikut turun, nanti pamit ya sama ayahku, dia pgn tau aku pergi sma siapa smpe jam brpa"
"oh iya klo gtu, gpp" mendadak aku menjadi ragu. Kira-kira seperti apa ayahnya? Akankah ayahnya mengijinkanku mengajak putrinya pergi?

Aku menerka dan berimajinasi dalam lamunku membayangkan kira-kira apa yang terjadi setelah ini, sampai teriakan kecilnya membuyarkan imajinasiku.

"hai Rey, sori lama nunggu, tadi masih siap-siap bentar" dia sedikit berlari ke arahku. Terlihat ceria dan matanya menyalakan semangat yang tidak aku temui kemarin sore.

Aku terkesiap memandang Vira pagi ini. Sekarang dia tampak bersemangat beda dengan kemarin sore ketika matahari akan terbenam, saat pertama aku berjumpa dengannya. Dengan kaos berwarna navy blue berkerah yang simple dan celana pendek yang menurutku masih pada batas wajar serta flat shoes putihnya dengan sentuhan pita kecil diatasnya dan rambutnya yang pendek dihiasi dengan bando merah tipis membuatnya terlihat sangat menawan. Aku terdiam beberapa saat memandanginya. Terpaku.

"hei Rey!" teriaknya kecil sembari melambaikan tangan didepan wajahku, aku segera tersadar dari kesiapku. Hampir saja aku hilang tenggelam dalam keindahannya.
"kamu melamun apa?" dia bertanya sambil memasang muka serius.
"nngg, nggak ada" jawabku agak terbata. Diujung sudut mataku aku melihat sosok ayahnya sedang berdiri dan seperti sedang menahan tawa, mungkin geli melihat tingkahku.
"eh om, maaf, saya Rey, yang akan mengantar Vira ke Gua Bangkang" ucapku dengan nada sopan mengulurkan tangan untuk segera berjabat tangan dan segera menempelkan tangannya ke dahiku. Hal yang biasa aku lakukan ketika memperkenalkan diri dan bersalaman dengan orang yang lebih tua.
"ooh, wong jowo tho?" tanya sang ayah.
"inggih om" jawabku.
"hahaha.." gelaknya, "ya sudah, hati-hati ya kesananya, sampai jam berapa kira-kira?"
"mungkin agak sore om, karena perjalanannya agak lama"
"aah santai kalau itu, Vira juga kasihan disini tidak banyak kemana-mana hiburannya hanya pantai, asal jangan terlalu malam, jangan lupa mampir untuk makan ya, Vira suka marah kalau sudah lapar" lanjutnya sembari terbahak.
"waahh.. siap om.." jawabku juga sembari ikut tertawa.
"Ayaaah, apaan sih?" Vira memukul lembut lengan ayahnya, terlihat gemas dengan perlakuan ayahnya. Aaah, romantis sekali ayah dan putrinya ini. Melihat wajahnya yang sendu dan manja juga membuatku jadi terhanyut.
"sudah sana segera berangkat, mengko ndak kawanen" tutur ayahnya dengan lembut.
"iya om, kami berangkat dulu" ujarku berpamitan.

Didalam mobil selama perjalanan kali ini aku melihat Vira lebih banyak bicara dan bercerita. Bercerita bagaimana dia sangat dekat dengan ayahnya. Bercerita bagaimana dia dan tempat kerjanya. Sampai bercerita tentang hobi karaoke dan kadang suka menari yang menurutnya sangat absurd. Aku sendiri tipikal orang yang tidak terlalu banyak bicara ketika berhadapan dengan seorang wanita yang tengah aku kagumi keberadaannya dihadapanku.

Pernahkah kalian membiarkan ruang bicara kalian didominasi oleh seseorang tapi tidak ada sedikitpun rasa keberatan? Tidak ada sedikitpun keinginan untuk menyela. Yang ada malah rasa kekaguman dan ingin seseorang tersebut terus berbicara sedangkan kalian memilih memandanginya dalam diam, dalam kagum. Pernah?
Aku dalam posisi itu kawan.  Percayalah, aku tidak peduli bila harus terdiam sepanjang perjalanan dan mendengarkan celotehan Vira yang terdengar seperti penyiar radio. Aku tidak peduli bila aku tidak ada giliran untuk bercerita tentang hidupku yang juga sebenarnya cenderung datar. Karena dia tidak pernah berhenti untuk berujar dengan seribu ceritanya. Dan aku, tidak ingin dia berhenti bercerita. Aku berusaha melirik dan mencuri pandang wajahnya dari sudut mataku. Beruntung jalanan di Pulau Lombok tidak terlalu padat sehingga aku bisa sedikit mengalihkan pandanganku sesaat dari jalanan untuk memandang wajahnya dan memperhatikan mimik mukanya ketika bercerita. Ya, di pertemuan yang kedua ini aku sudah jatuh dalam dirinya. Sangat cepat memang.

Mobil kami melaju perlahan meninggalkan Sawe-Batu Riti. Masih terdengar lirih lagu Novo Amor - Cold ditengah derai ceritanya yang sepertinya masih belum akan berhenti.

For all off your worth I would lapse and fall again, For all that its worth I would have loved you until the end, But i'm cold in your heart and you're branded into mine.



Comments

Popular Posts