VCA Part. 2


"dikediamanNya aku pertama kali melempar pandanganku
hanya tertuju kepadamu
sambil berdecak kagum
siapakah puan rupawan itu?"


Kuhempaskan tubuhku sekeras-kerasnya keatas kasur dingin. Menarik nafas panjang, menerawang langit-langit kamar dengan kipas bergantung jumawa dibawahnya. Berputar pelan tapi anginnya cukup membuatku menggigil, tubuhku memang belum sehat benar. Kutarik selimut tipis yang terkesan kain seadanya sekedar untuk menutupi kakiku. 

Baru saja aku sembuh dari penyakit liver. Dokter menyarankanku untuk istirahat total selama liburan panjang ini. Rencana awal selama liburan ini aku memang tidak ingin melakukan perjalanan kemanapun. Hanya ingin sekedar berkunjung kerumah juwita jiwaku. Mengajaknya melihat film, menyeduh dan mereguk kopi hitam favoritnya bersama, kalau perlu hanya sekedar duduk berdua di sofa ruang tamunya sambil berdekapan dan membiarkan diam mengisi keheningan kami. Akan sempurna pasti. Tetapi sebelum aku sembuh benar, kenyataan mengharuskan aku dan dia berpisah. Dipisahkan lebih tepatnya. Kepahitan ini akan kuceritakan lain waktu.

Aku menengok ke arah jam tanganku berada. Kedua jarumnya telah membentuk sudut pada 0 derajat. Sudah tengah malam. Tidak ada kabar dari Vira. Tidak ada telepon bahkan pesan sekalipun. Aku bahkan berharap ada panggilan masuk yang tiba-tiba dimatikan sebelum aku sempat mengangkatnya dan berharap itu darinya. Ternyata, aku, hanya angin lalu baginya. 

Kupaksakan menutup mata dan membuang semua bayang wajah yang menghampiriku. Belum sampai aku tertidur benar telepon seluler ku bergetar, pertanda ada pesan yang masuk. 

"hai, sori ya aku baru bisa pegang hp, soal besok apakah tawarannya masih berlaku? -Vira-"

Itulah kata-kata yang kubaca melalui pesan singkat. Aku terhentak dari pembaringanku. Menyipitkan mataku yang masih agak buram karena hampir terlelap beberapa menit yang lalu. Seolah tidak percaya aku menggosok-gosok kedua mataku, membacanya berkali-kali tanpa luput satu huruf pun. Aku pun segera membalas pesannya.

"masih, jadi dijemput jam 9?"
"iya, jam 9 sampe sini ya?"
"sini mana?"
"hahah aku stay di Kuta Garden Homestay, deket kan?"
"oooh deket kok, oke jam 9 aku jemput dan udah sampe tempatmu" aku tidak menyebutkan dimana aku menetap. Hanya motel kecil yang bahkan namanya tidak dapat ditemukan di travel agent online. Malu aku kalau harus menceritakannya. Nama motelnya saja kalah bergengsi.
"oke, ketemu besok ya.."
"i can't wait" pesan terakhirku menutup pembicaraan kami.

Setidaknya malam ini aku tidak merasa terlalu kedinginan dan senyum terbentuk disudut bibirku yang kering dan pecah. Tidak sabar menunggu hari esok.



"maafkan aku yang hanya meninggalkan bekas sembilu
rasa pilu
ngilu
di hatimu
sekarang hatimu sepekat jelaga kaldera"

Comments

Popular Posts