VCA Part. 1



"matahari terlihat separuh terpotong khatulistiwa
di pantai tujuanku ini aku ingin membuang kecewa
kemana? tanya ibuku, aku ingin plesir
memendam kekecewaan jauh dalam pasir"

Perjalananku ke Bali dan Lombok adalah berniat membuang kenangan pahit tapi yang kudapat malah kenangan baru yang berujung pada kesakitan. Lagi.

Vira, seorang gadis yang anggun, lakunya elok, berjalan perlahan menyisir bibir pantai. Disebelahnya tidak nampak jejak kaki mengiringi pertanda sedari tadi ia berjalan sendiri. Dibawah pohon kelapa ia terduduk menatap kosong ke arah cakrawala luas. Entah angin apa yang mendorongku karena tiba-tiba kakiku telah mantap melangkahkan kaki ke tempatnya terduduk.

"sendiri?" ujarku membuka pembicaraan.
"eh.. iya.." jawabnya terkejut sambil menatapku heran seolah aku mahkluk luar angkasa dari dimensi ketujuh yang bisa berbicara bahasa manusia.
"boleh duduk?" tanyaku.
"eh iya boleh kok, silahkan..." jawabnya agak ragu, mungkin awalnya ingin menjawab "enyah kau bangsat" tapi diurungkannya.

Setelah aku duduk disebelahnya dia sedikit bergeser agak menjauh, mungkin takut tertular batukku yang telah menahun. Aku maklumi hal itu.

Beberapa patah kata pun mulai membangun atmosfer diatas batu canggung.

"sedang berlibur?"
"iya.."
"bersama keluarga?"
"iya..."
"dari mana?"
"surabaya"
"ah... sama berarti"
"iya..."

Terasa seperti wawancara kerja memang. Maafkan aku yang tidak pandai memecah kebekuan diantara dua yang baru bertemu.

"sudah kemana saja?" kembali aku bertanya tanpa lelah, masih berusaha.
"nggak kemana-mana, paling hanya ke pantai-pantai, keluarga lebih senang di villa mmm homestay sih lebih tepatnya" ujarnya sambil meluruskan kakinya dengan malas.
"emang disini ada apa selain pantai?" tanyanya sambil mengernyitkan dahi, heran.
"aku berencana ke Gua Bangkang, katanya bagus" ujarku penuh semangat. Kontras.
"ah wisata alam lagi, disini nggak ada tempat wisata belanja gitu ya? Lebih seru di Bali!'
Mulai bercanda. Sekarang dia yang berusaha memecah kebekuan.
"sama siapa kesini? keluarga?"
"enggak, aku sendiri"
"iseng banget jauh-jauh dari surabaya cuma sendiri" dia mencibir. Lucu sekali melihat merah merona bibirnya.
"ada yang perlu dihindari dan dilupakan" aku menukasnya.
"kita belum bertukar nama, Rey" ujarku menjulurkan tangan. "Vira" jawaban yang singkat dan dingin terlontar dari bibir merahnya. Tegas, lugas, terbatas. Tanpa menyambut tanganku yang tengah menggantung menunggu jabat tangannya.

Ada keheningan beberapa menit diantara kami. Hanya deru ombak yang lirih mengisi ruang tenang yang tak disengaja itu. Matahari semakin turun berubah menjadi jingga keunguan. Segera menghilang dibalik garis cakrawala. Angin mulai terasa dingin. Dia mendekapkan tangannya kepada badannya seolah sedang memeluk seseorang. Kedua telapak tangannya mengusap-usap lengannya.
Dia beranjak dari tempatnya. Membalik badan tanpa mengucap sepatah kata apapun seolah-olah sedari tadi dia tidak sedang berbicara dengan mahkluk yang hidup. Jika tidak sekarang mungkin esok aku tidak akan menjumpainya lagi. Aku terhentak. Dengan terburu-buru aku bangkit berdiri dan menyusul langkahnya yang berat karena pasir pantai.

"jalanmu cepat sekali, kalau kamu mau dan tidak ada acara mungkin besok kita bisa bersama ke Gua Bangkang" terengah-engah aku menyampaikan ucapku. Sial, penyakit ini benar-benar memperlambat gerak langkahku.
Langkahnya terhenti keheranan menatap pemuda yang berada dihapannya ini. Sambil tertawa kecil dia menukas "baru ketemu.. nanti aku diculik, nggak mau".
"Ahaha" tawaku renyah. "setidaknya aku berhasil menculik gadis cantik, berapapun tebusannya nggak akan aku kembalikan pada keluargamu" tawaku tambah menyeringai.
"iih, ngeri" ujarnya sambil tertawa kecil.
"jadi gimana? mau nggak?" aku masih berusaha.
"jam berapa kamu mau berangkat? aku nggak suka bangun pagi, ini liburan jangan minta aku bangun pagi"
"jam 9 aku jemput"
"aku bilang dulu sama keluargaku"
"silahkan" aku menyodorkan telepon selularku.
"buat?"
"itu nomorku mungkin nanti kita bisa berkabar lewat SMS"
Dikeluarkannya telepon selularnya dan mulai mencatat nomorku.
"hmmm... Rey ya? oke nanti aku kabari" sekarang dia tersenyum tipis.
"duluan ya" dia melangkah pergi, hilang, bersama kerumunan yang menjauhi bibir pantai karena atraksi sang surya telah berakhir untuk hari ini.

Aku masih ingin terduduk di bibir pantai ini. Sepi. Jarum jam tangan membentuk sudut kecil menunjukkan sudah petang. Dalam hati aku mengumpat. Aku lupa meminta nomor teleponnya. Aah, deru ombak pantai yang lirih sekarang terdengar seperti tawa ejekan di telingaku. Laknat.

"air pantai mulai terlihat menghitam
bintang masih malu menampakkan sinarnya
masih ingat kah kau mengadukkanku secangkir kopi hitam?
di ruang tamu rumahmu yang berpendar sinarnya"

Comments

Popular Posts