Tentang Kenangan



*rrrr*
Telepon selulerku bergetar. Sebuah pesan masuk. Dari seorang kawanku berisikan "aku rinduu". Aaahhh, andai dia seorang wanita sudah kujadikan kekasih dari dulu. Sayangnya dia adalah seorang pria. Atau belum pria karena belum menikah hingga saat ini. Kukira dia rindu padaku, ternyata rindu dengan kisah lamanya. Kawan, masalahmu memang susah tapi simple.

Perlahan aku seduh kopiku yang tidak berampas, sudah cukup pahit tidak perlu lagi dinikmati dengan ampasnya menurutku. Buat apa menambah getir dalam rasa yang sudah pahit. Perlahan dan lirih lagu dari Kunto Aji mengalun lembut. I'll find you wherever you go...

Klasik memang kalau berbicara kenangan dengan masa lalu. Kenangan akan selalu memiliki tempat setidaknya di pikiran kita walau hanya singgah sekejap, sedetik dua detik. Sekeras apapun kita menghempasnya kelak dia akan bangkit dan kembali lagi. Rindu adalah perasaan yang wajar. Tidak ada masalah dengan merindu. Benar-benar wajar. Terkadang kita merasa penggah terhadap masalah mengakui rindu kepada masa lalu. Kita merasa berdiri megah karena telah melupakan masa lalu. Bagi kita masa lalu dan segala kenangannya harus dibuang sejauh-jauhnya. Bahkan masih sedikit diantara kita yang masih mengakui keberadaan seseorang dalam masa lalu kita.

Tapi bagiku mengenang masa lalu adalah caraku menghidupi masa depan. Bukan, aku bukan sedang terjebak dengan kenangan masa lalu. Tapi sadar atau tidak sadar kenangan akan selalu terbawa. Pahit manisnya, baik buruknya, akan selalu kita bawa. Kita tidak bisa menghindarinya. Ibarat sebuah jalan yang pernah kita lalui, masa lalu tetap akan ada, jalan yang pernah kita lalui tersebut juga tetap akan selalu ada meski kelak kita akan memilih jalan yang baru. Kita bukan pemerintah kota yang bisa seenaknya mengubah jalan bukan?

Jangan meniadakan yang sudah ada. Jangan menganggap yang ada menjadi tidak ada dalam pemahamanmu. Kamu sedang merindu? Luapkanlah. Dalam bentuk apapun asal tidak merugikan orang lain. Ada orang yang mengolokmu karena rindu dengan masa lalu? Biarkan mereka dengan perkataanya, mungkin mereka dulunya menjalani masa lalu yang labil dan yang tidak layak dikenang. Itu terserah mereka.

Jarak yang kau bentang dan tembok besar yang kau bangun untuk membatasimu dari kenangan-kenanganmu itu tidak akan ada artinya. Karena ia seperti angin, merangkak diatas jarak menyusup dalam celah tembokmu. Foto berdua dengannya yang kau simpan terus dalam laci meja kerjamu itu tidak akan menghapus memorimu tentangnya. Hatimu sudah memiliki ruang tersendiri meskipun itu kecil baginya. Jangan menghalangi kedatangan memori tentangnya. Semakin kau halangi semakin sakit yang kau rasakan. Nikmatilah. Hadapilah. Peluk erat dalam gapaian tanganmu meski terasa sia-sia. Meski mungkin tidak dirasakannya lagi hal yang sama. Setidaknya kau telah melakukan bagianmu dengan sebaik-baiknya. Karena akhirnya sesuai dengan namanya kenangan tetap harus dikenang tidak untuk kau buang dan hempaskan.

Belajar menghargai kenangan seperti kita menikmati secangkir kopi murni. Tidak usah terlalu pekat cukup encer saja. Pahit manisnya tetap kau telan juga. Percayalah, apa yang kita jalani adalah selalu tentang proses. Seperti secangkir kopi yang berproses panjang sebelum kau mereguknya msih ke dalam kerongkonganmu. Karena hidup dan kenangan akan selalu pahit dan tidak bisa ditutupi dengan manis buatan semu yang kau sebut dengan lari dari kenyataan.

Percayalah kawan, cara melupakan yang terbaik adalah dengan mengingat sebaik-baiknya. Berterima kasih dan bersyukurlah karena mereka pernah menjadi bagian dari hidup yang datar ini.


When the sun goes down on when it flies as leave in
Like your smile for the last time we met

Distance and time leave you honest

So they’re dancing be our guide

Silence and noise are exactly
Sing a song of our heart
When you come
Like you wish for the last time we met

I'll find you - Kunto Aji

Comments

Popular Posts