Ruang Tamu & Kopi


di ujung sofa itu
kau terdiam termenung
segelas besar kopi dengan asapnya mengepul
dalam genggaman tanganmu
kopi buatan ibumu

hei gadis penikmat kopi
dengan apa aku harus menghapus sepi
dalam tiap teguk kopi pangkal lidahmu
getir pahit kau nikmat rasakan
manisnya kau telantarkan
aku suka kopi hitam katamu
kamu, kopi susu saja ujarmu
ah, kau, selalu..

ruang berbincang kita
harum semerbak kopimu
menutupi harum aroma tubuhmu
yang sebenarnya kurindukan saat itu
ditengah gelak tawa yang malu
pandangan mata yang sayu
dinding merekam tiap hening kita
terkadang memori kita bersilangan bersisipan
seteguk kopi dan kau mengembangkan senyuman
senyum simpul yang membuat kopi susuku menjadi semakin manis
maaf, aku terlalu sering mengerucutkan mulut, katamu itu cemberut
membuat kopimu tambah pahit dan tidak kunjung surut
diantara pekatnya aroma kopi
kecemasan, ketakutan, dan keraguan menyeruak
ingatkah kamu, pelukku mungkin menjadi tempat teraman
tempat aku mencuri tiap wangi rambutmu 
tempat aku menyesakkan diri dengan harum mu
tempat aku menyesakkan seluruh indera penciumanku dengan aroma tubuhmu
tempat kesukaanmu yang sekarang kau hindari
karena kau tidak lagi mau terlenyap didalamnya

sekarang aku kembali pada cangkir ini
menyeduh pahitnya dengan air mata
menaruhnya diatas tatakan harapan yang telah retak
kopiku tidak pernah segetir ini pahitnya
karenamu pahitnya kopi kembali menjadi rasa pelipuranku
malamku telah larut
seiring dengan cangkir kopiku yang telah surut
biarkan aku larut 
dalam aroma tubuhmu yang tengah kalut


dengan duduk dikursi kerja, 2017

Comments

Popular Posts