Dua Kapal Dalam Bahaya Saling Bersilangan

Trauma. Mungkin ini yang sedang kami berdua alami sekarang. Ketakutan akan luka baru karena luka lama belum kering. Karena trauma adalah luka yang terulang. Secara tidak sadar naluri kami akan bahaya menjadi meningkat. Secara tidak sadar pula kami akan membangun tembok yang tinggi yang bahkan kami sendiri pun tidak mampu lagi menggapainya. Orang lain tidak dapat masuk kami tidak dapat keluar. Mengunci diri dari luar dan dalam. Semua karena trauma. Mungkin ini adalah naluri dan bagian dari self defense mechanism kami. Kami percaya kalian juga akan melakukan hal yang sama bila berada di posisi yang sama dengan kami.

Seperti dua buah kapal yang akan karam. Lambungnya telah terisi banyak air laut. Memaksakan jentera kami untuk terus berjalan mencari mercusuar terdekat dan berharap menemukan pesisir pantai. Berharap untuk diselamatkan. Badai menerjang, menerpa, seolah badai menjadi hidup dan satu-satunya tujuan adalah menenggelamkan kami.

Seperti dua kapal yang hancur akibat badai
Kami telah saling silang jalan
Tapi kami tidak memberi tanda, kami tidak mengatakan sepatah kata pun,
Kami tidak punya kata untuk diucapkan
-  Oscar Wilde -

Kami terlalu angkuh untuk bertegur sapa. Terlalu pongah untuk berkata bahwa sejatinya kami masih saling membutuhkan. Kami telah bersilang jalan tapi terlalu angkuh untuk saling meminta tolong, karena apa yang dapat dilakukan bila satu dari kami juga tengah karam? Kelantaman kami menghancurkan segalanya.

Tidak ada satupun dari kami menurunkan sauhnya, sebagai pertanda akan berhenti. Tanpa memberi sinyal kami saling melalui satu sama lain. Perlahan-lahan menghilang dalam gelapnya lautan malam, karam, tanpa harapan.
 




Comments

Popular Posts