Dalam Batas Aksara

Sejatinya kita adalah mahkluk paling beraksara yang pernah Tuhan ciptakan. Dari sekian banyak ciptaanNya hanya kitalah manusia yang berbahasa dan beraksara paling kompleks. Kita, baik secara sadar dan tidak sadar adalah sebagian dari penyair yang terlelap. Menunggu untuk dibangunkan. Terbaring untuk disadarkan. Kita, membutuhkan pelatuk.

Cinta adalah pelatuk dan kesadaran paling mujarab bagi para penyair yang tengah terlelap. Dan tidak ada orang yang paling puitis selain orang yang tengah patah dan jatuh cintanya. Aku akan mengangkat gelasku tinggi-tinggi bagi mereka yang tengah berpatah. Daripada orang yang berpuisi dan bersajak karena tengah bahagia merasakan cinta, aku lebih memusatkan perhatianku pada mereka yang berpuisi karena terluka dan terkulai lemah ketika merasakan sembilu.

Mereka yang terpatahkan adalah mereka yang jujur. Karena kawan, sebenarnya cinta akan selalu menjelujur. Kenyataan akan selalu pahit. Dan hanya yang patah yang tengah merasakannya. Cinta menjadi buta ketika belum dihadapkan dengan kenyataan. Ketika kenyataan terpampang dan menyeruak lebar dihadapanmu maka terang dan nyatalah bahwa cintamu tidak selalu indah. Segera sembuhkan diri dari cinta yang buta dengan menghadap pada sinar terang kasunyatan.  Meskipun kenyataan terkadang berupa pil pahit tapi tetap harus kau telan juga bukan?

Sangat abstrak sekali menggambarkan kegundahan mereka yang tengah patah. Disinilah aksara berperan. Syair diterbitkan. Karena hanya dalam aksara dan syair mereka mampu menggulirkan perasaan kalut.

Hanya dalam keheningan aksara tanpa nama mereka mampu menutup luka dan membiarkan darahnya membeku. Tidak perlu merasa jijik dengan mereka yang mungkin kalian anggap sedang bergaya bahasa dan berdandan ala penyair. Tudingan berlebihan dan lebay hanya akan memperumit suasana hati mereka. Bila kalian tak sependapat dengan cara mereka melarikan diri dari kepatahan dan kepahitan yang mereka alami dan bila kalian tak sepakat dengan cara mereka membekukan darah mereka untuk menutup luka mereka yang menganga, cukup baca apa yang mereka tulis lalu melangkahlah pergi. Karena mereka dan kalian punya cara masing-masing dalam membekukan darah dan ingatan dari kenangan masa lalu.

Ada yang menyibukkan diri dengan menenggelamkan diri dalam pekerjaan, ada yang terburu-buru melampiaskan dalam pelariannya, ada yang menghembuskannya dalam tiap asap tembakau yang dihisapnya, ada yang menenggaknya jauh kedalam kerongkongan bersama tiap teguk air minuman kerasnya, dan ada yang termenung, terpekur, terduduk meratapi kepatahannya.

Aku? Aku memilih jalur aksara dimana aku bebas menjadi diriku sendiri, dalam batas aksara.
Kegundahanku tersampaikan dalam batas aksara.

Semoga kelak aku menemukan kembali yang telah hilang, dalam batas aksara.

Ruang Kerja
Jakarta, 2017

Comments

Popular Posts